Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

hitung Gaji Cuti saat Melahirkan sekaligus Pengambilan Waktu yang Tepat

 Apakah Cuti Melahirkan Patut Digaji? Sebagaimana yang telah diatur dalam Undang Undang, perempuan memiliki hak untuk mendapatkan cuti menjelang hari persalinan. Selama itu pula perempuan memperoleh hak untuk diberi upah.

Sebagaimana UU RI Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 28 Ayat (1) dan Pasal 84, perempuan diberi hak untuk istirahat 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan setelah melahirkan. Bahkan perempuan juga berhak mendapat upah penuh pada masa tersebut.

Perempuan yang bekerja memang harus mendapatkan keistimewaan, yaitu Cuti saat melahirkan. Hal itu juga telah diatur di dalam Undang Undang Ketenagakerjaan. Sehingga setiap perusahaan wajib memberikan kelonggaran bagi perempuan hamil untuk mendapatkan cuti. Ketika karyawan menjalani cuti, perusahaan juga harus tetap memberikan gaji yang tepat. Perhitungan gaji selama cuti melahirkan juga harus dipertimbangkan dengan baik.

Memberikan gaji untuk cuti melahirkan memiliki cara dan aturan tertentu. Bagi Anda yang belum mengetahuinya, artikel ini bisa menjadi solusi yang tepat untuk membantu.

Berapa Lama Waktu Cuti Melahirkan yang Baik?

Membahas mengenai waktu cuti, tentu tidak boleh sembarangan dalam menentukannya. Pasalnya masih saja ada yang menyepelekan hal ini sehingga tidak memberikan waktu cuti yang cukup.

Cuti melahirkan selama satu sampai dua bulan saja bukanlah waktu yang ideal. Seperti pendapat dari Christopher J. Ruhm yang merupakan pakar dari University of Virginia, cuti melahirkan sebaiknya didapatkan oleh wanita hamil selama 10 bulan. Waktu yang sebenarnya cukup lama.

Ada juga pendapat lain yang mengemukakan bahwa cuti melahirkan sudah cukup dengan mengambil waktu selama empat bulan, supaya kesehatan ibu dan bayi bisa terjamin dengan baik.

Empat bulan di sini maksudnya satu bulan sebelum melahirkan, dan tiga bulan setelah proses persalinan. Sebab ada beberapa wanita di luar sana yang rentan mengalami depresi setelah melahirkan.

Cuti melahirkan yang tidak diberikan sesuai dengan ketentuan dapat menyebabkan masalah tertentu. 

1. Minim Asupan ASI

Jika cuti yang diambil terlalu singkat, dikhawatirkan akan berdampak pada minimnya asupan ASI. Entah karena bayi yang tidak dapat memperoleh ASI saat dibutuhkan atau karena produksinya terhambat dari pihak ibu. Cara mengatasinya adalah donor ASI atau pompa ASI.

2. Belum Sempat Pulih

Hal berikutnya adalah belum sempat memulihkan diri. Berdasarkan keterangan ahli, setelah proses persalinan maka waktu paling cepat untuk pulih adalah sekitar enam minggu. Kendati demikian, tubuh harus tetap beristirahat dengan cukup.

3. Depresi

Langsung kembali bekerja setelah melahirkan dapat mengakibatkan depresi. Bahkan dampaknya bisa menyerang bayi yang tidak diasuh dengan maksimal.

Dengan demikian, karyawan tetap harus mendapatkan hak untuk mengambil cuti. Perhitungan gaji selama cuti melahirkan memang berbeda tiap perusahaan, tetapi sebenarnya dianjurkan memberikan gaji penuh.

Bagaimana Cara Menghitung Gaji Cuti Melahirkan?

Berdasarkan peraturan pemerintah, wanita mendapatkan hak untuk cuti melahirkan selama 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan sesudah melahirkan. Dalam waktu tiga bulan tersebut, wanita yang mengambil cuti harus mendapatkan gaji penuh selama tiga bulan.

Waktu yang tepat mengajukan cuti pada dasarnya memang berbeda-beda, tergantung dari perusahaan tempat kerja. Pada dasarnya, karyawan yang ingin mengajukan cuti melahirkan harus memberikan informasi baik secara lisan maupun tulisan kepada pihak perusahaan.

Cuti melahirkan wajib diambil untuk kepentingan ibu dan bayi. Jika cuti yang diambil terasa tidak cukup, ada beberapa dampak yang mungkin terjadi.

Meta Deskripsi:

Orang mungkin bertanya mengenai Perhitungan gaji selama cuti melahirkan. Sebagaimana peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.